PengantarPERTAMA-TAMA, kiranya karya tulis perbandingan ini dipandang sebagai sebuah ungkapan kekaguman seorang pembaca ketika membaca cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku dalam buku berjudul sama (selanjutnya disebut Sepotong Senja saja) karya Seno Gumira Ajidarma (SGA); dan Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia dalam buku berjudul sama (selanjutnya disebut Sepotong Bibir saja) karya Agus Noor (AN). Juga, kiranya karya ini bukan dipandang sebagai telaah kritis seseorang yang telah menggeluti sastra secara serius dan mendalam. Penulis hanyalah seorang pembaca beberapa karya sastra yang ditulis penulis Indonesia, yang sedang mewujudkan niat memberi pendapat dan ulasan yang wajar atas pembacaan yang dilakukannya.
Penulis membaca cerita Sepotong Bibir yang ditulis AN baru-baru ini. Spontan, cerita itu mengingatkan penulis pada cerpen Sepotong Senja karya SGA. AN menulis sebuah cerpen yang begitu imajinatif. Bayangkan saja, suatu ketika Anda mendapat kiriman dari seorang tukang pos yang mengendarai kuda sembrani yang bisa terbang. Kiriman itu adalah sepotong bibir yang indah!
Namun, sebelum lebih jauh menyusuri elemen-elemen imajiner dan lain-lainnya dalam kedua cerpen ini, ada sebuah kata yang tampak agak dipaksakan dalam judul cerpen AN, yakni "sepotong". "Sepotong bibir" bisa saja diartikan sebuah bibir -- bagian atas atau bawah saja. Namun, dalam cerita ini, yang dikirimkan adalah sepasang bibir. Mungkin, karena cerita ini dipersembahkan untuk SGA yang telah mengarang Sepotong Senja, terjadilah pemilihan judul itu.
Tapi, baiklah, judul itu bisa diterima juga dalam perenungan ini: Bagaimana mungkin bibir manusia bisa kita terima lewat pos jikalau bibir itu (baik sepasang atau hanya sebagian) tidak dipotong terlebih dahulu? ***
Sepotong Senja
DALAM Sepotong Senja, SGA begitu lihai mengolah kata-kata yang merangsang imajinasi pembaca untuk dilibatkan di sepanjang cerita. Dengan jitu pula ia mengutip beberapa bagian cerpen dan puisi karya orang lain yang ia jadikan bahan merekonstruksi jalan cerita, yang ia sertakan pada bagian bawah tiap halaman dalam catatan kaki. SGA bisa dikatakan tak membuat kesalahan dalam cerpennya dan catatan-catatan kakinya itu; hanya penulis menganggap ada sebuah catatan kakinya yang agak kelewatan, yaitu ketika ia mengisahkan bagian manakala ada kejar-kejaran, beberapa mobil saling bertubrukan dan ada yang bergulingan. Ia menyebut bagian itu: "Adegan yang selalu ada dalam film-film action Hollywood." Penulis yakin, tak semua film action Hollywood "selalu" menyuguhkan adegan itu.
Baiklah, itu hanya hal sepele. Namun, bagian itulah yang menjadi konflik puncak di cerita ini -- setelah pembaca dibuai dengan kata-kata yang begitu sarat kegelisahan dan romantika; setelah Sukab melarikan diri karena ketahuan memotong senja di suatu pantai -- dan mewakili obsesi SGA menulis ceritanya. Terkisah di sana Sukab kemudian melarikan diri, tersesat dalam sebuah gorong-gorong yang baunya minta ampun, dan keluar pada sebuah pantai perawan yang senjanya mirip dengan senja yang baru saja ia potong. Sebuah senja yang tak memiliki kehidupan sama sekali, senja di bumi sana -- bumi di balik gorong-gorong. Ia pun memotong senja sekali lagi, di pantai antah-berantah itu, lalu mengantongi dua potong senja yang seukuran kartu pos itu di saku kiri dan kanan bajunya.
Sepotong senja yang berasal di pantai dan membuat Sukab dikejar-kejar dikirimkan Sukab buat Alina, pacarnya. Sepotong yang lain -- yang Sukab dapatkan setelah melewati gorong-gorong -- disimpannya. SGA tampak tak menyiratkan obsesi -- atau sebutlah tendensi -- apa pun yang serius ketika menuliskan semua ini. Obsesinya yang terbaca oleh penulis adalah kegelisahannya mengusir kesendirian dan melepas kerinduan yang ia alami:
Ia menghadirkan sepotong senja yang "mewah" dari pantai yang indah buat kekasihnya, walau karena hal itu ia dikejar-kejar sebagai buron. Sementara bagi dirinya sendiri cukuplah senja dari dunia antah-berantah -- dari dunia yang harus digapai dengan gorong-gorong yang bau amis, yang tak ada kehidupan di dalamnya -- untuk disimpan.
Itulah SGA dengan Sepotong Senja-nya. Saudara-saudara, penulis yakin akan satu hal ini: Kalau kita membaca pelan-pelan cerpen Sepotong Senja, SGA bahkan terkesan sedang membuat sebuah cerita yang berangkat dari keisengan. ***
Sepotong Bibir
SEKARANG, mari kita tilik Sepotong Bibir-nya AN. Bibir yang dikirimkan sang tukang pos begitu indah. Bibir itu bahkan bisa meloncat-loncat, berpidato, dan pandai bernyanyi pula! Nyanyiannya pun riang, walau tak jelas kata-kata yang ia nyanyikan.
Begitulah AN menghadirkan imajinasi yang terasa melampaui batas nalar, namun terkesan tak mengada-ada. Maneka, si penerima bibir adalah seorang pemuja rahasia Sukab. Ia menggandrungi Sukab dengan segala kemisteriusannya. Dalam Sepotong Bibir, dikisahkan Maneka suatu ketika menemui Alina. Keduanya membahas keberadaan Sukab yang sekarang entah ada di mana.
Maneka yang merasa (juga) dicintai Sukab karena telah dikirimi bibir, menunjukkan bibir itu kepada Alina, bahkan kepada orang-orang. Semua orang takjub melihat bibir itu, berbondong-bondong menyaksikan atraksinya yang memukau. Maneka dan Alina terlibat dalam hubungan yang tampak akrab namun prestisius -- berebut mengetahui jejak-langkah keberadaan Sukab. (Namun Sukab tak tampil dalam cerita ini untuk menyapa kedua wanitanya.)
Ketakjuban orang-orang pada bibir itu menghasilkan ending yang berisi dialog Maneka dan Alina tentang bibir itu. Seorang menyatakan itu bibir Tukang Kibul. Seorang menyatakan itu bibir calon Presiden. Presiden = Tukang Kibul? Kalau yang satu ini, silahkan Anda putuskan sendiri.
Ending yang benar-benar menohok ini tampaknya merupakan suara hati AN yang membuat cerpen ini pada tahun 2009 -- pada masa pemilihan presiden. Di sinilah AN membuat jurang yang terhitung lebar bila dibandingkan dengan SGA. AN memiliki semacam pelampiasan obsesi -- atau sebutlah tendensi -- menyatakan suaranya atas gejolak politik yang sedang terjadi pada saat itu; lain dengan SGA yang menuliskan cerita Sepotong Senja pada tahun 1991, yang kelihatannya situasi saat itu tengah adem-ayem (kalau penulis tidak salah ingat).
Upaya AN terbilang kritis membuat sebuah cerpen dengan ending yang sedemikian telak. Namun, mungkinkah ada yang bertanya-tanya (dan curiga) mengapa AN terkesan meniru-niru Sepotong Senja dalam ceritanya?
Happy Salma (omong-omong, penulis melihatnya sekarang makin cantik dan manis saja), menyatakan cerpen AN autentik. Autentik, sama dengan otentik, sama dengan orisinal, dalam Tesaurus Bahasa Indonesia. Sejauh manakah gagasan AN bisa disebut orisinal -- manakala kita membaca AN menghadirkan tokoh yang sudah diciptakan SGA dan menghadirkan potongan kisah yang mirip dalam cerpennya? Penulis kurang sepakat dengan istilah itu. (Terlebih bila kita membaca beberapa cerpen lain dalam buku Sepotong Bibir AN yang di beberapa bagian di dalamnya terkesan sangat dekat dengan cerpen-cerpen di buku Sepotong Senja SGA.)
Penulis merasa lebih tepat menjuluki cerpen AN (utamanya cerpen Sepotong Bibir) sebagai cerpen yang kreatif dan masif, bukan otentik. AN kreatif dalam hal mengemas cerita. Penulis beranggapan hampir sebagian besar unsur pembentuk cerpen ini ada pada bagian di mana SGA menuliskan keluhannya dalam Sepotong Senja tentang kemerosotan peran kata-kata sebagai penyampai maksud. Penulis kutip sedikit: "Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tak dibutuhkan lagi."
Jelas, "kata-kata" ini adalah kata-kata lisan. Kata-kata cinta, janji-janji manis, dan lain-lain. Kata-kata, yang meminjam sebuah istilah yang pernah saya dengar, kini di masyarakat kita dituangkan dalam "budaya cangkeman": bicara dan bicara melulu. Bibir yang kelelahan, bahasa yang basi, basa-basi dan bahkan caci-maki yang kebablasan, yang sudah sering kita dengar. Dan itu semua memang melelahkan, apalagi di masa-masa perebutan tampuk kekuasaan di negeri ini tengah dihelat.
AN, di sisi lain juga sangat masif mengemas ceritanya. Senja, di sini tak terlalu ia libatkan begitu banyak; ia membuat cerita dengan alur dan kisahnya "sendiri" yang bernas dan penuh kejutan -- utamanya bila pembaca pernah membaca Sepotong Senja. Ia dengan jeli menangkap geliat dan keresahan masyarakat pada tren kampanye dan budaya cangkeman yang marak itu tadi, lalu membuat kisah yang ia rangkai dengan melakukan pembacaan ulang -- yang penulis kira cukup intens -- atas cerpen-cerpen SGA dalam buku Sepotong Senja. ***
Penutup
BEGITULAH perbandingan ini dibuat. Apresiasi ini kiranya dapat dieksplorasi dan dikritisi lebih jauh bilamana dirasa penting, mengingat SGA dan AN adalah dua nama penting dalam khasanah cerpen Indonesia. Pada akhirnya, penulis tak dapat memutuskan mana yang lebih baik antara SGA atau AN.
SGA layak menerima penghormatan karena lebih dulu menciptakan Sukab, Alina dan Maneka; narasi tentang senja yang begitu manis; dan kisah yang sangat imajinatif dan sangat memuaskan hasrat banyak pembaca cerpen yang menyukai keunikan kisah itu. Sementara AN layak mendapat pujian karena telah mengeksplorasi cerita-cerita SGA; dan kemudian membuat cerita dengan gaya dan kisahnya sendiri yang ia sesuaikan dengan perubahan dan gejolak zaman. ***
Sidik Nugroho, pembaca buku-buku sastra Indonesia, http://ulasansastra.blogspot.com
Sidoarjo, 22-23 Maret 2010
***
Data Buku:
Judul: Sepotong Senja untuk Pacarku (1); Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2)
Penulis: Seno Gumira Ajidarma (1); Agus Noor (2)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (1); Bentang Pustaka (2)
Tahun Terbit: Agustus 2002, cetakan kedua (1); Februari 2010, cetakan pertama (2)

0 comments:
Post a Comment